Filsafat
adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep
dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai
suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu
secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan
segala hubungan.
Pendidikan adalah upaya
mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik
potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat
berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita
kemanusiaan universal. Pendidikan
bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis,
dinamis, guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah
filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Beberapa
aliran filsafat pendidikan;
1. Filsafat pendidikan progresivisme yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
2. Filsafat pendidikan esensialisme yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
1. Filsafat pendidikan progresivisme yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
2. Filsafat pendidikan esensialisme yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
Dalam pandangannya progresivisme
berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme
bersifat dinamis dan temporal, menyela. tidak pernah sampai pada yang paling
ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus
karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang
telah disimpan dalam kebudayaan. Belajar berfungsi untuk mempertinggi taraf kehidupan
sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang
eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan
kebutuhan.
FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESSIVISME
A. Aliran Progresivisme
Progressivisme merupakan salah satu aliran filsafat pendidikan yang berkembang dengan pesat pada permulaan abad ke XX dan sangat berpengaruh dalam pembaharuan pendidikan yang didorong oleh aliran naturalisme dan experimentalisme, instrumentalisme, evironmentalisme dan pragmatisme sehingga penyebutan nama progressivisme sering disebut dari nama-nama aliran tadi.
Progressivisme
dalam pandangannya selalu berhubungan dengan pengertian “the liberal road to
cultural” yakni liberal dimaksudkan sebagai fleksibel (lentur dan tidak kaku),
toleran dan bersikap terbuka, serta ingin mengetahui dan menyelidiki demi
pengembangan pengalaman. Progressivisme disebut sebagai naturalisme yang
mempunyai pandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta ini
(bukan kenyataan spiritual dari supernatural).
Oleh sebab itu
akan dikaji lebih jauh bagaimana dasar konsep progressivisme yang terus
berkembang, yang mana hasil tersebut akan menjadi bahan acuan
pembaharuan-pembaharuan Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat
atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan
dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Selama dua puluh tahunan
merupakan suatu gerakan yang kuat di Amerika Serikat. Banyak guru yang
ragu-ragu terhadap gerakan ini, karena guru telah mempelajari dan memahami
filsafat Dewey, sebagai reaksi terhadap filsafat lainnya. Kaum progresif
sendiri mengkritik filsafat Dewey. Perubahan masyarakat yang dilontarkan oleh
Dewey adalah perubahan secara evolusi, sedangkan kaum progresif mengharapkan
perubahan yang sangat cepat, agar lebih cepat mencapai tujuan.
Pada reaksinya menentang terhadap formalime dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras, belajar pasif, dan banyak hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan. Lebih jauh gerakan ini dikenal karena dengan imbauannya kepada guru-guru : “Kami mengharapkan perubahan, serta kemajuan yang lebih cepat setelah perang dunia pertama”.
Pada reaksinya menentang terhadap formalime dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras, belajar pasif, dan banyak hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan. Lebih jauh gerakan ini dikenal karena dengan imbauannya kepada guru-guru : “Kami mengharapkan perubahan, serta kemajuan yang lebih cepat setelah perang dunia pertama”.
B. Tokoh-tokoh Progresivisme
1. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910)
James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.
1. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910)
James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.
2. John Dewey (1859 – 1952)
John Dewey dalam mengemukakan teorinya berangkat dari filsafat pragmatisme yang diukur dengan setandar rasional. Teori Dewey tentang sekolah adalah “Progressivism” yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah “Child Centered Curiculum”, dan “Child Centered School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas
3. Hans Vaihinger (1852 – 1933)
Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. Jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.
C.
Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan
Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
Filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi.
Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus ter-integrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
Filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi.
Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus ter-integrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Kesimpulan
:
1. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan yang mendasar pada cita-cita kemanusiaan universal.
2. Progressivisme disebut sebagai naturalisme yang mempunyai pandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta ini (bukan kenyataan spiritual dari supernatural)
3. Filsafat pendidikan progressivisme didukung oleh aliran naturalisme dan experimentalisme, instrumentalisme, evironmentalisme dan pragmatisme.
4. Tokoh-tokoh progresivisme seperti william james, john dewey dan hans vaihinger.
5. Pada pandangan, progressivisme menghendaki kebebasan anak didik baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya,
6. Menurut progressivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Oleh karena itu hendaknya jenis kurikulum bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka, sahingga setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan zamannya.
1. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan yang mendasar pada cita-cita kemanusiaan universal.
2. Progressivisme disebut sebagai naturalisme yang mempunyai pandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta ini (bukan kenyataan spiritual dari supernatural)
3. Filsafat pendidikan progressivisme didukung oleh aliran naturalisme dan experimentalisme, instrumentalisme, evironmentalisme dan pragmatisme.
4. Tokoh-tokoh progresivisme seperti william james, john dewey dan hans vaihinger.
5. Pada pandangan, progressivisme menghendaki kebebasan anak didik baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya,
6. Menurut progressivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Oleh karena itu hendaknya jenis kurikulum bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka, sahingga setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan zamannya.
Pengertian
Filsafat Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran
yang memandang segala sesuatu berdasarkan eksistensinya atau bagaimana manusia
berada dalam dunia.Secara etimologi eksistensialisme berasal dari kata eks yang
artinya luar, dan sistensi yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara
luas eksistensi dapat diartikan sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya
sekaligus keluar dari dirinya. Secara umum berarti, manusia dalam keberadaannya
itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaanya di tentukan oleh
akunya.karena manusia selalu terlihat di sekelilingnya, sekaligus sebagai
miliknya.
Latar Belakang Lahirnya Eksistensialisme
Eksistensialisme muncuL karena
dilatarbelakangi adanya ketidak Puasan beberapa filusuf yang memandang bahwa
filsafat pada masa yunani ketika itu seperti protes terhadap rasionalisme
yunani, khususnya kemampuan sisitem,rasa tidak puas terhadap filsafat tradisional
yang bersifat dangkal dan primitif. Selain itu, aliran ini lahir karena adanya
kesadaran beberapa filusuf bahwa manusia mulai terbelenggu dalam aktifitas
teknologi yang membuat mereka kehilangan hakekat hidupnya sebagai manusia atau
makhluk yang berinteraksi dengan alam dan lingkungan sekitar bukan hanya dengan
semua serba instant. Adapun pendapat lain mengatakan bahwa lahirnya aliaran
eksistensialisme karena adanya krisis –krisis yang terjadi atau merupakan
reaksi atas aliran filsafat yang telah ada sebelumnya atau situasi dan kondisi
dunia, Yaitu:
- Materialisme
Menurut pandangan ini, pada
hakekatnya manusia nantinya adalah benda, seperti halnya kayu atau batu. Para
meterialis memang tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda, tapi
mereka mengatakan bahwa pada akhirnya, pada prinsipnya,Pada akhirnya, pada
instansi yang terakhir manusia adalah sesuatu yang material. Namun
Manusia memang lebih unggul daripada hewan, namun pada eksistensinya manusia
sama dengan hewan.
2.
Idealisme
Aliran ini memandang manusia sebagai
subjek,hanya sebagai kesadaran, menempatkan aspek berfikir dan kesadaran secara
berlebihan sehingga menjadi seluruh manusia bahkan di lebih – lebihkan lagi
sampai tidak ada barang selain pikiran.
- Situasi dan kondisi
Eksistensialisme juga karena
adanaisi dunia barat yang tidak menentu. Penampilan manusia saat itu penuh
rahasia, peru- pura, kebencian merajalela, nilai sedang mengalami krisis,
bahkan manusia juga krisis. dan agama sudah tidak memberikan makna pada
kehidupan.
Dari
sekian banyak filsuf eksistensialisme atau eksistensialis yang memiliki
pendapat dan pemikiran berbeda dalam ke-eksistensialimeannya, dapat kita
temukan ciri-ciri yang sama, yang menjadikan sistem itu dapat di cap sebagai
eksistensialisme. Menurut Harun Hadiwijono (1990) ciri-cirinya adalah sebagai
berikut:
- Motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas manusia berada. Pusat perhatian ini adalah manusia. Oleh karena itu, filsafat ini bersifat humanitis.
- Bereksistensi harus diartikan bersifat dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif. Bereksistensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaanya.
- Di dalam eksistensialisme manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk. Pada hakikatnya manusia terikat kepada dunia sekitarnya, terlebih lagi pada manusia sekitarnya.
- Eksistensialisme memberi tekanan kepada pengalaman yang konkret, pengalama yang eksistensial. Hanya arti pengalaman ini berbeda-beda. Heidegger memberi tekanan kepada kematian, yang menyuramkan segala sesuatu, Marcel kepada pengalaman keagamaan dan Jaspers kepada pengalaman hidup yang bermacam-macam seperti kematian, penderitaan, perjuangan dan kesalahan. (Drs. Surajiyo, 2005, hlm.161-162)
Ciri aliran eksistensialisme
- Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya idealisme hegel.
- Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualisme terhadap konsep – konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkret.
- Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal ( tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi serta gerakan masa.
- Eksistensialisme merupakan proses terhadap gerakan totaliter baik gerakan fasis, komunis yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa.
- Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek manusia di dunia.
- Eksistensialisme menentukan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung
Tokoh-tokoh Eksistensialisme Beserta
Pemikirannya.
1.
Soren Aabye Kierkegaard.
Mulanya
ia tertarik pada filsafat Hegel ketika ia belajar teologi di Universitas
Kopenhagen, yang pada saat itu (Filsafat Hegel) populer di kalangan intelektual
di Eropa, tetapi tidak lama kemudia Soren Aabye Kierkegaard melancarkan
kritiknya. Keberatan yang diajukan oleh Kierkegaard kepada Hegel ialah karena
Hegel meremehkan eksistensi yang konkret karena ia (Hegel) mengutamakan idea
yang sifatnya umum. Sedangkan menurut Kierkegaard manusia tidak pernah hidup
sebagai suatu “aku umum”, tetapi sebagai “aku individual” yang unik dan tidak
dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain.
2.
Jean Paul Sarte
Meski Sartre
berasal dari keluarga Kristen protestan dan ia sendiri dibaptiskan menjadi
katolik, namun dalam perkembangan pemikirannya ia justru tidak menganut agama
apapun. Ia atheis. Ia mengaku sama sekali tidak percaya lagi akan adanya Tuhan
dan sikap ini muncul semenjak ia berusia 12 tahun. Bagi dia, dunia sastra
adalah agama baru, karena itu ia menginginkan untuk menghabiskan hidupnya
sebagai pengarang. Sartre tidak pernah kawin secara resmi, ia hidup bersama
Simone de Beauvoir tanpa nikah. Mereka menolak menikah karena bagi mereka
pernikahan itu dianggap suatu lembaga borjuis saja. Dalam perkembangan
pemikirannya, ia berhaluan kiri. Sasaran kritiknya adalah kaum kapitalis dan
tradisi masyarakat pada masa itu. Ia juga mengeritik idealisme dan para pemikir
yang memuja idealisme. Pada tahun 1931 ia mengajar sebagai guru filsafat di
Laon dan Paris. Pada periode ini ia bertemu dengan Husserl. Semenjak pertemuan
itu ia mendalami fenomenologi dalam mengungkapkan filsafat
eksistensialisme-nya. Ia menjadi mashur melalui karya-karya novel dan tulisan
dramanya. Dalam bidang filsafat, karyanya yang sangat terkenal adalah Being
ang.
3. Karl Jaspers
Memandang
filsafat bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri.
Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua
pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif itu, sehingga manusia
sadar akan dirinya sendiri .Ada dua fokus pemikiran Jasper, yaitu eksistensi
dan transendensi.
Filsafat
Eksistensialisme merupakan filsafat yang muncul pada abad ke-19 dan masyhur di
abad ke-20. Sebab kemunculan filsafat yang satu ini diakibatkan oleh
ketidak puasan para eksistenisalis terhadap paham Materialisme, Idealisme juga
dikarenakan keadaan Eropa Barat pada saat itu. Mendobrak paham Materialisme
yang memandang kejasmanian sebagai keseluruhan manusia, sedangkan jasmani
hanyalah merupakan bagian dari manusia tanpa memperdulikan bahwa manuisa berfikir
dan berkesadaran. Akan tetapi sebaliknya, dalam idealisme aspek berfikir dan
berkesadaran yang terlupakan dalam materialisme justru dijunjung tinggi oleh
idealisme hingga seluruh manusia, tidak ada barang lain selain pikiran. Maka,
paham eksistensialisme hadir sebagai jalan keluar dan penengah antara keduanya.
Filsafat eksistensialisme menyatakan bahwa manusia merupakan objek juga subjek.
