Rabu, 30 September 2015

pylosophy education



            Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
            Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal.   Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis, guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

Beberapa aliran filsafat pendidikan;
1. Filsafat pendidikan progresivisme yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
2. Filsafat pendidikan esensialisme yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.

            Dalam pandangannya progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal, menyela. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Belajar berfungsi untuk mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESSIVISME
A. Aliran Progresivisme

Progressivisme merupakan salah satu aliran filsafat pendidikan yang berkembang dengan pesat pada permulaan abad ke XX dan sangat berpengaruh dalam pembaharuan pendidikan yang didorong oleh aliran naturalisme dan experimentalisme, instrumentalisme, evironmentalisme dan pragmatisme sehingga penyebutan nama progressivisme sering disebut dari nama-nama aliran tadi.

Progressivisme dalam pandangannya selalu berhubungan dengan pengertian “the liberal road to cultural” yakni liberal dimaksudkan sebagai fleksibel (lentur dan tidak kaku), toleran dan bersikap terbuka, serta ingin mengetahui dan menyelidiki demi pengembangan pengalaman. Progressivisme disebut sebagai naturalisme yang mempunyai pandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta ini (bukan kenyataan spiritual dari supernatural).
Oleh sebab itu akan dikaji lebih jauh bagaimana dasar konsep progressivisme yang terus berkembang, yang mana hasil tersebut akan menjadi bahan acuan pembaharuan-pembaharuan Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Selama dua puluh tahunan merupakan suatu gerakan yang kuat di Amerika Serikat. Banyak guru yang ragu-ragu terhadap gerakan ini, karena guru telah mempelajari dan memahami filsafat Dewey, sebagai reaksi terhadap filsafat lainnya. Kaum progresif sendiri mengkritik filsafat Dewey. Perubahan masyarakat yang dilontarkan oleh Dewey adalah perubahan secara evolusi, sedangkan kaum progresif mengharapkan perubahan yang sangat cepat, agar lebih cepat mencapai tujuan.
Pada reaksinya menentang terhadap formalime dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras, belajar pasif, dan banyak hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan. Lebih jauh gerakan ini dikenal karena dengan imbauannya kepada guru-guru : “Kami mengharapkan perubahan, serta kemajuan yang lebih cepat setelah perang dunia pertama”.
B. Tokoh-tokoh Progresivisme
1. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910)
James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.

2. John Dewey (1859 – 1952)
John Dewey dalam mengemukakan teorinya berangkat dari filsafat pragmatisme yang diukur dengan setandar rasional. Teori Dewey tentang sekolah adalah “Progressivism” yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah “Child Centered Curiculum”, dan “Child Centered School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas

3. Hans Vaihinger (1852 – 1933)
Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. Jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.
C. Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan
            Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
            Filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi.
            Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus ter-integrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Kesimpulan :
1. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah     pendidikan yang mendasar pada cita-cita kemanusiaan universal.
2. Progressivisme disebut sebagai naturalisme yang mempunyai pandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta ini (bukan kenyataan spiritual dari supernatural)
3. Filsafat pendidikan progressivisme didukung oleh aliran naturalisme dan experimentalisme, instrumentalisme, evironmentalisme dan pragmatisme.
4. Tokoh-tokoh progresivisme seperti william james, john dewey dan hans vaihinger.
5. Pada pandangan, progressivisme menghendaki kebebasan anak didik baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya,
6. Menurut progressivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Oleh karena itu hendaknya jenis kurikulum bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka, sahingga setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan zamannya.










Pengertian Filsafat Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran  yang memandang segala sesuatu berdasarkan eksistensinya atau bagaimana manusia berada dalam dunia.Secara etimologi eksistensialisme berasal dari kata eks yang artinya luar, dan sistensi yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara luas eksistensi dapat diartikan sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari dirinya. Secara umum berarti, manusia dalam keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaanya di tentukan oleh akunya.karena manusia selalu terlihat di sekelilingnya, sekaligus sebagai miliknya.
Latar Belakang Lahirnya Eksistensialisme
Eksistensialisme muncuL karena dilatarbelakangi adanya ketidak Puasan beberapa filusuf yang memandang bahwa filsafat pada masa yunani ketika itu seperti protes terhadap rasionalisme yunani, khususnya kemampuan sisitem,rasa tidak puas terhadap filsafat tradisional yang bersifat dangkal dan primitif. Selain itu, aliran ini lahir karena adanya kesadaran beberapa filusuf bahwa manusia mulai terbelenggu dalam aktifitas teknologi yang membuat mereka kehilangan hakekat hidupnya sebagai manusia atau makhluk yang berinteraksi dengan alam dan lingkungan sekitar bukan hanya dengan semua serba instant. Adapun pendapat lain mengatakan bahwa lahirnya aliaran eksistensialisme karena adanya krisis –krisis yang terjadi atau merupakan reaksi atas aliran filsafat yang telah ada sebelumnya atau situasi dan kondisi dunia, Yaitu:
  1. Materialisme
Menurut pandangan ini, pada hakekatnya manusia nantinya adalah benda, seperti halnya kayu atau batu. Para meterialis memang tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda,  tapi mereka mengatakan bahwa pada akhirnya, pada prinsipnya,Pada akhirnya, pada instansi yang terakhir manusia adalah sesuatu yang material.  Namun Manusia memang lebih unggul daripada hewan, namun pada eksistensinya manusia sama dengan hewan.
2.      Idealisme
Aliran ini memandang manusia sebagai subjek,hanya sebagai kesadaran, menempatkan aspek berfikir dan kesadaran secara berlebihan sehingga menjadi seluruh manusia bahkan di lebih – lebihkan lagi sampai tidak ada barang selain pikiran.
  1. Situasi dan kondisi
Eksistensialisme juga karena adanaisi dunia barat yang tidak menentu. Penampilan manusia saat itu penuh rahasia, peru- pura, kebencian merajalela, nilai sedang mengalami krisis, bahkan manusia juga krisis. dan agama sudah tidak memberikan makna pada kehidupan.
Dari sekian banyak filsuf eksistensialisme atau eksistensialis yang memiliki pendapat dan pemikiran berbeda dalam ke-eksistensialimeannya, dapat kita temukan ciri-ciri yang sama, yang menjadikan sistem itu dapat di cap sebagai eksistensialisme. Menurut Harun Hadiwijono (1990) ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
  1. Motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas manusia berada. Pusat perhatian ini adalah manusia. Oleh karena itu, filsafat ini bersifat humanitis.
  2. Bereksistensi harus diartikan bersifat dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif. Bereksistensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaanya.
  3. Di dalam eksistensialisme manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk. Pada hakikatnya manusia terikat kepada dunia sekitarnya, terlebih lagi pada manusia sekitarnya.
  4. Eksistensialisme memberi tekanan kepada pengalaman yang konkret, pengalama yang eksistensial. Hanya arti pengalaman ini berbeda-beda. Heidegger memberi tekanan kepada kematian, yang menyuramkan segala sesuatu, Marcel kepada pengalaman keagamaan dan Jaspers kepada pengalaman hidup yang bermacam-macam seperti kematian, penderitaan, perjuangan dan kesalahan. (Drs. Surajiyo, 2005, hlm.161-162)
Ciri aliran eksistensialisme
  1. Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya idealisme hegel.
  2. Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualisme terhadap konsep – konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkret.
  3. Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal ( tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi serta gerakan masa.
  4. Eksistensialisme merupakan proses terhadap gerakan totaliter baik gerakan fasis, komunis yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa.
  5. Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek manusia di dunia.
  6. Eksistensialisme menentukan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung


Tokoh-tokoh Eksistensialisme Beserta Pemikirannya.

1.      Soren Aabye Kierkegaard.
                Mulanya ia tertarik pada filsafat Hegel ketika ia belajar teologi di Universitas Kopenhagen, yang pada saat itu (Filsafat Hegel) populer di kalangan intelektual di Eropa, tetapi tidak lama kemudia Soren Aabye Kierkegaard melancarkan kritiknya. Keberatan yang diajukan oleh Kierkegaard kepada Hegel ialah karena Hegel meremehkan eksistensi yang konkret karena ia (Hegel) mengutamakan idea yang sifatnya umum. Sedangkan menurut Kierkegaard manusia tidak pernah hidup sebagai suatu “aku umum”, tetapi sebagai “aku individual” yang unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain.

2.      Jean Paul Sarte
                Meski Sartre berasal dari keluarga Kristen protestan dan ia sendiri dibaptiskan menjadi katolik, namun dalam perkembangan pemikirannya ia justru tidak menganut agama apapun. Ia atheis. Ia mengaku sama sekali tidak percaya lagi akan adanya Tuhan dan sikap ini muncul semenjak ia berusia 12 tahun. Bagi dia, dunia sastra adalah agama baru, karena itu ia menginginkan untuk menghabiskan hidupnya sebagai pengarang. Sartre tidak pernah kawin secara resmi, ia hidup bersama Simone de Beauvoir tanpa nikah. Mereka menolak menikah karena bagi mereka pernikahan itu dianggap suatu lembaga borjuis saja. Dalam perkembangan pemikirannya, ia berhaluan kiri. Sasaran kritiknya adalah kaum kapitalis dan tradisi masyarakat pada masa itu. Ia juga mengeritik idealisme dan para pemikir yang memuja idealisme. Pada tahun 1931 ia mengajar sebagai guru filsafat di Laon dan Paris. Pada periode ini ia bertemu dengan Husserl. Semenjak pertemuan itu ia mendalami fenomenologi dalam mengungkapkan filsafat eksistensialisme-nya. Ia menjadi mashur melalui karya-karya novel dan tulisan dramanya. Dalam bidang filsafat, karyanya yang sangat terkenal adalah Being ang.

3.      Karl Jaspers
            Memandang filsafat bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif itu, sehingga manusia sadar akan dirinya sendiri .Ada dua fokus pemikiran Jasper, yaitu eksistensi dan transendensi.


KESIMPULAN 
            Filsafat Eksistensialisme merupakan filsafat yang muncul pada abad ke-19 dan masyhur di abad ke-20. Sebab kemunculan  filsafat yang satu ini diakibatkan oleh ketidak puasan para eksistenisalis terhadap paham Materialisme, Idealisme juga dikarenakan keadaan Eropa Barat pada saat itu. Mendobrak paham Materialisme yang memandang kejasmanian sebagai keseluruhan manusia, sedangkan jasmani hanyalah merupakan bagian dari manusia tanpa memperdulikan bahwa manuisa berfikir dan berkesadaran. Akan tetapi sebaliknya, dalam idealisme aspek berfikir dan berkesadaran yang terlupakan dalam materialisme justru dijunjung tinggi oleh idealisme hingga seluruh manusia, tidak ada barang lain selain pikiran. Maka, paham eksistensialisme hadir sebagai jalan keluar dan penengah antara keduanya. Filsafat eksistensialisme menyatakan bahwa manusia merupakan objek juga subjek.



pylosophy education



Thursday, 10 September 2015
PHILOSOPHY OF EDUCATION IN
PROGRESSIVISM AND Existentialism













GROUP             : IV
NAME              : GRACE THRESIA NAINGGOLAN
ID                    : 4133331080
MAJOR             : CHEMISTRY EDUCATION STUDY PROGRAME


MATHEMATIC AND NATURAL SCIENCE FACULTY
2015/2016
LIST CONTENT

List content………………………………………………………………...……………………. 2
Determining of PHYLOSOPHY………………….……………………………………………. 3
Phylosophy education of progressivism…………………………………...…………………... 4
The figure of progressivism………………………………………………...…………………... 5
Conclution………………………………………………………………………...……………... 6

Phylosophy education of existentialism………………………………………...……………... 6
Background of existentialism………………………………………….......………………….... 7
Flow characteristic existentialism……………………………………………..……………..... 8
The figure of existentialism………………………………………………..…………………… 8
Conclution…………………………………………………………………...………………...… 9
Refferences………………………………………………………………………………………10













Philosophy is a way of life of a person or group of people that is the basic concept of life with  aspired topic. Philosophy also be interpreted as an attitude of someone who is conscious and mature in thinking about everything deeply and wants to see in terms of extensive and thorough with every relationship.

Education is an effort to develop the potential of human physical potential learners both potential creativity, taste, so that it becomes a real potential and be able to function in the course of his life. Basic education is a universal human aspiration. Education aims to prepare a personal balance, unity. organic, harmonious, dynamic, in order to achieve the goal of human life. Educational philosophy is the philosophy used in the study of the problems of education.

Some schools of philosophy of education;
1. The educational philosophy of progressivism which is supported by a philosophy of pragmatism.
2. The educational philosophy of essentialism. supported by idealism and realism; and
3. Philosophy of education prenialism supported by idealism.

In his view progressivism argue there is no general theory of reality. According progressivism experience is dynamic and temporal, interrupts. never arrive at the most extreme, and pluralistic. According to progressivism, the value continues to grow due to new experiences between individuals with values ​​that have been stored in culture. Learning serves to heighten the level of social life is very complex. A good curriculum is the curriculum that is experimental, the curriculum at any time can be adjusted as needed.





PHILOSOPHY OF EDUCATION PROGRESSIVISM

The flow of Progressivism

Progressivism is one school of philosophy of education that is growing rapidly at the beginning of the twentieth century and is very influential in the educational reform driven by the flow of naturalism and experimentalism, instrumentalism, evironmentalism and pragmatism so that the naming progressivism often called from the names of earlier flow.

Progressivism in his view is always associated with the notion of "the liberal road to cultural" namely liberal intended as a flexible (flexible and not rigid), tolerant and open mind, and wanted to know and investigate the sake of development experience. Progressivism referred to as naturalism that has the view that the actual reality is this universe (not the spiritual reality of the supernatural).
Therefore it will be studied further how basic concepts progressivism evolving, where the result will be a reference reforms

Progressivism is not a philosophy or school of philosophy of building a stand-alone, rather it is a movement and association which was founded in 1918. Over twenty years is a strong movement in the United States. Many teachers are skeptical of this movement, because teachers have studied and understand the philosophy of Dewey, as a reaction to other philosophies. Progressives alone criticize the philosophy of Dewey. Societal changes made by Dewey is an evolutionary change, while progressives expect rapid change, in order to more quickly achieve the goal.
At reaction against formalime and boring traditional schools, which emphasize the harsh discipline, passive learning, and lots of little things that are not useful in education. Furthermore, this movement is known as the appeals to the teachers: "We expect changes, as well as more rapid progress after the first world war".


Figures Progressivism
1. William James (January 11, 1842 - August 26, 1910)
James believes that the brain or the mind, as well as aspects of organic existence, must have a biological function and survival value. And he asserts that the function of the brain or mind was studied as part of the basic subjects of natural science. So James helped to liberate psychology from theological preconceptions, and placing it on the basis of behavioral science.

2. John Dewey (1859-1952)
John Dewey put forward his theory departed from the philosophy of pragmatism as measured by standart rational. Dewey's theory about the school is the "progressivism" that put more emphasis on students and their own interests rather than their subject area. Then came the "Child Centered Curriculum" and "Child Centered School". Progressivism prepare children present than future unclear

3. Hans Vaihinger (1852-1933)
Hans Vaihinger, He said that know it only has practical significance. Conformity with the object may not be proven; the only measure for thinking is useless (in Greek pragma) to influence events in the world. All the sense it's actually purely artificial. If the sense is useful. to rule the world, so-so is considered correct, as long as people know that the truth is nothing but a fallacy that is useful only.

The view Progesivism and Its Application in the Field of Education
Students are given the freedom both physically and way of thinking, in order to develop their talents and abilities latent in him, without hampered by barriers created by others, therefore philosophy progressivism not approve authoritarian education. Therefore, authoritarian education will turn off the shoots of the students to live as individuals happy face lessons. And at the same time creative power off both physically and psychologically students.
Philosophy of progressivism requires the type of curriculum that is both supple (flexible) and open. So that the curriculum can be changed and formed according to age. The nature of the curriculum is the curriculum that can be revised and adequate kind, is experimental or type Core Curriculum. Curriculum centered on experience or experimental curriculum is based on man in his life always interact. Progressivism does not want any given subject separately, but must ter-integration in the unit. Thus the core curriculum contains characteristics of integrated curriculum, which is the preferred method of problem solving. With the subjects are integrated in the unit, expected that children can develop physically and psychologically and can reach cognitive, affective, and psychomotor.

Conclusions:
1. The educational philosophy is the philosophy used in the study of educational issues fundamental to the ideals of universal humanity.
2. Progressivism referred to as naturalism that has the view that the actual reality is this universe (not the spiritual reality of the supernatural)
3. Philosophy of education progressivism supported by the flow of naturalism and experimentalism, instrumentalism, evironmentalism and pragmatism.
4. Figures progressivism like william james, john dewey and Hans Vaihinger.
5. In view, progressivism want freedom of the students both physically and way of thinking, in order to develop their talents and abilities latent in him,
6. According progressivism, the value continues to grow due to new experiences between individuals with values ​​that have been stored in culture. Therefore, the type of curriculum should be supple (flexible) and open, so any time can be adapted to the needs and age.


Philosophy of Existentialism
Existentialism is a stream that sees everything according to its existence or how humans are in the world. By existentialism etymology comes from the word that means the former outside, and systensi which means standing or placing, so widespread existence can be interpreted as a stand-alone as he once out of him , In general meaning, in the presence of man realized that he was there and everything is determined by the existence of human cause always looks around him, as well as his own.

Background The birth of Existentialism
Existentialism appears as a backdrop of dissatisfaction some philosophers who believe that Greek philosophy at the time when it was as a protest against Greek rationalism, especially the ability system, dissatisfaction with traditional philosophy that is both banal and primitive. In addition, the flow is born because of the awareness of some philosophers that human activity began shackled in technology that make them lose the essence of his life as a human being or beings that interact with nature and the surrounding environment not only with all-round instant.
The other opinion says that the birth of sourch existentialism because of the crisis or the crisis that occurred was a reaction to schools of philosophy that have been there before or the circumstances of the world, is:
1. Materialism
According to this view, the essence of man will be a thing, like wood or stone. The materialist does not say that man is the same as objects, but they say that in the end, in principle, In the end, the last human agency is something material. However Humans are superior to animals, but at the same human existence with animals.
2. Idealism
This flow view humans as subjects, just as consciousness, thinking and awareness aspects put excessive that it becomes the whole man even more - exaggerating again until no goods other than the mind.
3. The situation and conditions
Existentialism also because adanaisy western world erratic. Human appearance when it was full of secrets, peru- temple, hatred is rampant, the value is in crisis, even humans too crises. and religion no longer give meaning to life.

Of the many existentialist philosophers existentialism or who have different opinions and thoughts in all eksistentialism, we can find the same characteristics, which make the system can be labeled as existentialism. According to Aaron Hadiwijono (1990) characteristics are as follows:
1. The principal motive is the so-called existence, that is the way humans are. Only humans coexisting. Existence is the typical way humans are. The central concern is human.
2. The existence must be defined is dynamic. Existence means creating himself actively. Means exist to do, be, planned. Every human being becomes more or less than the condition.
3. In the human existentialism is seen as open. Man is a reality that has not been completed, which is still to be established. In essence, humans are bound to the surrounding world.
4. Existentialism put pressure on the concrete experience, experiences existential. Only the meaning of this experience is different. Heidegger applying pressure to the death, which is clouding everything, Marcel to the religious experience and the experience of living Jaspers diverse as death, suffering, struggle and error. (Drs. Surajiyo 2005, hlm.161-162)

Flow characteristics existentialism
1. Existentialism is rebellion and protest against the rationalism and modern society, especially the idealism of Hegel.
2. Existentialism is a process in the name of individualism against the concept - the concept, academic philosophy which is far from concrete life.
3. Existentialism is also a revolt against the impersonal nature (no personality) of the modern industrial age and technology as well as future movements.
4. Existentialism is a totalitarian movement proceedings against both motions fascist, communist tends to destroy or submerge the individual in the collective or the masses.
5. Existentialism emphasizes the human situation and prospects of people in the world.
6. Existentialism determine the uniqueness and the first position of existence, experience and awareness in the direct
Figure Existentialism and The Thinking
1. Soren Aabye Kierkegaard. At first he was interested in the philosophy of Hegel when he studied theology at the University of Copenhagen, who at that time (philosophy of Hegel) is popular among intellectuals in Europe, but not long later Soren Aabye Kierkegaard launched his criticism. Objections raised by Kierkegaard to Hegel is that Hegel underestimate the existence of concrete because he (Hegel) put the idea of ​​a general nature. Meanwhile, according to Kierkegaard humans never lived as a "general I", but as "I am an individual" is unique and can not be translated into something else.

2. Jean Paul Sarte Although Sartre came from Protestant Christian family and he himself was baptized into the Catholic, but in the development of his thinking he just does not adopt any religion. He was an atheist. He claimed did not believe anymore in God and this attitude emerged since he was 12 years old. For him, the literary world is a new religion, because he wants to spend his life as an author. Sartre never officially married, she lived with Simone de Beauvoir without marriage. They refused to marry because for them marriage was considered a bourgeois institution only.

3. Looking at the philosophy of Karl Jaspers aims to restore man to himself. Eksistensialism marked with the thought that using all objective knowledge and overcome the objective knowledge that human beings conscious of itself .There are two focus Jasper thought, namely the existence and transcendence.

CONCLUSION
Philosophy of Existentialism is a philosophy that emerged in the 19th century and famous in the 20th century. Because the emergence of a philosophy which is caused by dissatisfaction of the eksistenisalys to understand Materialism, Idealism is also due to the state of Western Europe at the time. Break understand a bodily materialism that sees human beings as a whole, while the physical is only part of the human being, regardless that human of thought and conscience. But on the contrary, in idealism aspects of thinking and conscious forgotten in precisely materialism to idealism upheld by all humans, no goods other than the mind. So, understand existentialism present as a way out and a mediator between the two. Existentialism philosophy holds that humans are also the subject of the object.




REFFERENCES
Purba, Edward. 2014. Filsafat Pendidikan. Medan : UNIMED PRESS

Hanifah, Abu. 1950. Rintisan Filsafat, Filsafat Barat Ditilik dengan Jawa Timur, Jilid 1. Jakarta : Balai Pustaka

Tirtarahardja,Umar dkk. 2005.Pengantar Pendidikan, Jakarta : PT. ASDI MAHASATYA